Jakarta — Dikutip dari Liptan6.com, Penulis Berita Agustina Melani melaporkan bahwa harga bensin di Amerika Serikat mengalami lonjakan signifikan dalam waktu singkat, bahkan mendekati kenaikan hingga 75 persen dalam kurun kurang dari satu bulan. Situasi ini memicu sorotan dari kalangan politik, termasuk Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer.
Schumer menilai kebijakan Presiden AS Donald Trump turut berkontribusi terhadap kenaikan harga energi tersebut. Dalam pernyataannya di platform X, ia membandingkan harga bensin yang sebelumnya berada di kisaran USD 2,93 per galon, kini melonjak menjadi sekitar USD 3,94 per galon.
“Sebulan lalu USD 2,93, sekarang USD 3,94. Ada satu pihak yang harus bertanggung jawab: Donald Trump,” ujarnya.
Sebagai tokoh senior dari Partai Demokrat, Schumer juga dikenal sebagai pihak yang menentang keputusan Trump terkait serangan terhadap Iran. Ia bahkan menyebut konflik tersebut telah menguras anggaran hingga puluhan miliar dolar AS.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga bensin di SPBU AS telah naik lebih dari 30 persen sepanjang Maret 2026, mendekati USD 4 per galon. Kenaikan ini terjadi di tengah upaya pemerintah menekan harga serta mengatasi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Sejak akhir Februari 2026, ketika ketegangan meningkat akibat serangan terhadap Iran, harga bensin rata-rata telah naik sekitar 90 sen per galon. Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), harga rata-rata tercatat sekitar USD 3,88 per galon pada pekan lalu.
Para analis memperkirakan tren kenaikan ini masih akan berlanjut seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah global.
“Dalam waktu dekat, harga bensin bisa menembus USD 4 per galon, bahkan berpotensi mencapai USD 4,10 atau lebih,” ujar analis GasBuddy, Patrick De Haan.
Kenaikan ini menjadi tekanan tambahan bagi masyarakat AS yang sebelumnya sudah menghadapi inflasi.
Dampak Politik dan Respons Pemerintah
Lonjakan harga bensin kini menjadi isu politik penting bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik, terutama menjelang pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang.
Sebelumnya, Trump berkomitmen untuk menekan harga energi dan meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Namun, kondisi pasar yang fluktuatif serta dinamika geopolitik membuat upaya tersebut menghadapi tantangan.
Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, turut memengaruhi pasokan global. Gangguan pada jalur pelayaran di Selat Hormuz berdampak pada distribusi minyak dari kawasan tersebut, sehingga turut mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Untuk merespons situasi ini, pemerintah AS mengambil sejumlah langkah, termasuk memberikan pengecualian sementara terhadap aturan Jones Act selama 60 hari. Kebijakan ini memungkinkan kapal asing mengangkut bahan bakar dan barang antar pelabuhan di AS.
Namun, para pelaku industri menilai dampaknya terhadap harga relatif terbatas.
“Kebijakan ini tidak akan berdampak signifikan terhadap penurunan harga,” ujar seorang sumber industri.
Senada dengan itu, Patrick De Haan juga menilai masyarakat tidak perlu berharap penurunan harga secara drastis dari kebijakan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah juga berencana mencabut sementara aturan bensin musim panas yang biasanya diterapkan untuk mengurangi polusi udara. Langkah ini diperkirakan dapat menurunkan harga bensin sekitar 10 hingga 20 sen per galon.
Kebijakan tersebut berpotensi memberikan manfaat lebih besar bagi konsumen di kota-kota besar seperti Chicago, New York, dan Washington, D.C.
Sumber dari Liputan6 : Harga Bensin di AS Melonjak Hampir 75%, Senator Menyalahkan Donald Trump

Komentar
Posting Komentar